|

Ubud Art Ground

Yayasan Satya Djaya Raya dengan bangga mempersembahkan Ubud Art Ground (UAG), sebuah platform seni dan budaya baru di Ubud, Bali, yang menjadi titik temu antara tradisi artistik dan ekspresi kontemporer. Ubud Art Ground dirancang untuk mendorong pertukaran budaya serta memperdalam wawasan artistik bagi seniman dan audiens, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan menjembatani tradisi dan modernitas melalui berbagai bentuk seni, UAG bertujuan menciptakan lingkungan interaktif yang mendorong dialog, eksplorasi, dan kolaborasi.

Berlokasi di kawasan Batu Kurung Estate, Kedewatan, Ubud, Ubud Art Ground tengah mengembangkan ruang seni dan budaya seluas 2.000 meter persegi sebagai pusat kegiatan jangka panjang. Untuk inisiatif perdananya, berbagai aktivitas diselenggarakan di GUDANG KAYU, sebuah bekas gudang kayu yang direvitalisasi menjadi ruang pamer sementara, yang berada tidak jauh dari pusat seni utama yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Ruang pamer modular ini, beserta area terbukanya, berfungsi sebagai ruang aktivasi menuju pembukaan pusat seni tersebut, sekaligus mengundang pengunjung untuk memulai pengalaman bermakna di kawasan ini melalui keterlibatan dengan seni, kegiatan budaya, dan berbagai ekspresi artistik kontemporer

Paralells: Legacies in Flux merupakan pameran ganda yang menjadi proyek perintis sekaligus peluncuran platform Ubud Art Ground. Pameran ini menghadirkan praktik seni dari dua budaya—Bali dan Tiongkok—yang berpusat pada tema “Legacies in Flux” (Warisan dalam Perubahan). Pameran ini mengeksplorasi berbagai kesamaan dan keterhubungan antara kedua budaya tersebut dalam sejarah, perkembangan, dan evolusi seni rupa beserta tradisinya, yang telah ada jauh sebelum modernisme Barat dan kolonialisme.

Bagian pertama, “Legacies in Flux: Bali,” yang dikuratori oleh Farah Wardani, menghadirkan pandangan kaleidoskopik terhadap seni rupa Bali dari era klasik hingga masa kini. Pameran ini menelaah bagaimana dialog mengenai tradisi, modernisme, dan estetika global saling beririsan dan memengaruhi perkembangan seni Bali, sekaligus menghormati warisan serta sejarah mendalam yang tertanam dalam identitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, di tengah berbagai perdebatan dan perubahan yang terus berlangsung dalam lanskap budayanya. Pameran ini menampilkan karya dari 51 seniman yang lahir atau berkarya di Bali.

Bagian kedua menampilkan pameran pendamping dari Central Academy of Fine Arts (CAFA) di Beijing, Tiongkok, yang dikuratori oleh Qiu Ting, Dekan School of Chinese Painting CAFA. Pameran ini menghadirkan karya dari 20 seniman Tiongkok dalam sebuah paviliun tersendiri yang menunjukkan bagaimana tema “Legacies in Flux” terwujud dalam seni rupa Tiongkok. Dengan menekankan inovasi dalam praktik seni lukis tradisional di tengah konteks kontemporer, pameran ini membuka ruang dialog lintas budaya yang kaya, melintasi waktu dan ruang, serta mengkaji keberlanjutan warisan artistik dan proses evolusinya.

CAFA menampilkan kurasi 33 karya penting yang berasal dari dua anggota fakultas terkemuka, tujuh seniman delegasi dari Indonesia, dan sebelas seniman yang didukung oleh Lie Siong Tay Charitable Foundation. Karya-karya tersebut memperlihatkan inovasi terkini dalam seni lukis minyak dan lukisan tradisional Tiongkok yang memadukan teknik-teknik klasik dengan beragam media kontemporer.

Dengan mempertemukan praktik seni rupa Bali dan Tiongkok dalam satu ruang dialog, pameran ini mengajak pengunjung untuk memperoleh perspektif baru mengenai bagaimana para seniman menafsirkan kembali warisan budaya dan tradisi dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Lebih dari itu, pameran ini juga menjadi titik awal bagi berbagai pameran dan program edukasi yang akan terus dikembangkan di Batu Kurung Estate pada masa mendatang.

Parallels: Legacies in Flux

11 Juli – 10 Agustus 2025

PARALLELS: Legacies in Flux adalah sebuah pameran yang menampilkan karya-karya seniman dari Bali dan Tiongkok, berlandaskan tema yang melihat berbagai kesamaan dan keterhubungan antara kedua budaya dalam sejarah, perkembangan, serta evolusi tradisi dan disiplin seni rupa mereka yang telah tumbuh jauh sebelum hadirnya pengaruh modernisme Barat.

Sebagaimana Tiongkok memiliki tradisi kuat dalam seni lukis tinta, Bali juga mengembangkan disiplin seni lukis tradisionalnya sendiri yang hingga kini masih dijaga dan dipraktikkan, seperti gaya Batuan, Kamasan, Pengosekan, dan Ubud. Dalam beberapa tahun terakhir, seiring berkembangnya wacana dekolonisasi dan keberagaman budaya global, para seniman semakin banyak meninjau kembali serta menghidupkan tradisi melalui pendekatan-pendekatan kontemporer, termasuk di Bali.

Pameran ini mengundang mitra dari Tiongkok untuk turut menghadirkan perkembangan tersebut bersama presentasi seni dari Bali. Kedua perspektif ini akan dipertemukan dalam sebuah pameran yang diselenggarakan di Ubud melalui platform seni dan budaya baru bernama Ubud Art Ground, yang diresmikan di kawasan Batu Kurung Estate, Kedewatan.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *